Juventus, Raja di Italia tapi selalu gagal di Eropa.
Pada kesempatan kali ini kita akan membahas topik seputar sepak bola eropa yang mempunyai ajang bergengsi yaitu Liga Champions, yang kembali bergulir awal pekan Agustus lalu. Sebelumnya Liga Champions ditunda karena Pandemi Covid-19 yang melanda dunia dan tentunya berimbas juga pada industri sepak bola.
Bagi pecinta bola ajang Liga Champions tentu sangat menarik untuk di lihat karena di penuhi dengan "kejutan" dari tim-tim yang berduel memperebutkan trofi si Kuping Besar. Termasuk tim dari Italia yang sering diejek "badut eropa" di Liga Champions yaitu juventus.
Sangat di sayangkan memang untuk tim kaya raya sekelas Juventus yang merupakan Raksasa sepak bola italia dengan rekor prestasi scudeto yang terbilang luar biasa. Sayangnya prestasi tersebut berbanding terbalik dengan kiprah mereka di benua eropa.
Alih alih menjadi kebanggaan dari Italia justru mereka selalu Gagal, yang akhirnya kegagalan itu selalu menjadi bahan perbincangan bagi penggemar sepak bola. Mungkin beberapa pernyataan berikut bisa menjadi alasannya kenapa Juventus selalu gagal di Liga Champions.
1. Di Italia klub kaya raya masih terbilang sedikit.
Klub dengan kekuatan finansial besar ya hanya Juventus. Inter? mungkin sekedar pelengkap, hal ini berbeda telak dengan Liga Inggris, dan Spanyol yang banyak memiliki klub kaya seperti Manchester City, Manchester United, Chelsea, Liverpool, Arsenal, Real madrid, Atletico Madrid, Barcelona dan masih banyak lagi.
Dari sinilah perbedaan kekuatan finansial membuat Juventus di Italia sulit memiliki lawan tangguh di kompetisi tersebut. Maka tidak heran sejak musim 2011/2012 mereka konsisten meraih Scudetto Serie A secara beruntun sampai musim 2019/2020.
2. Di kompetisi lokal Juventus sering di untungkan Wasit (keberuntungan) sebelum adanya VAR
Juventus sering kali di untungkan keputusan Wasit sehingga tak mengherankan kalau Juventus dengan mudah mendapatkan trofi domestik sedangkan sangat kesulitan dalam meraih trofi internasional mengingat "standar" wasit di kompetisi lokal dan kompetisi Eropa sangat jelas berbeda.
3. Taktik Juventus tidak berhasil di level Eropa.
Kompetisi Liga Italia (Serie-A) terbilang cukup berbeda dengan Liga Spanyol dan Inggris. Hal ini di karenakan bahwa klub Serie-A lebih menekankan pola permainan defensif/bertahan (pragmatis).
Sayangnya pola permainan sejenis ini sudah kuno untuk jaman sekarang yang menekankan sepakbola aktif. Apalagi untuk level Eropa "sudah banyak racikan strategi" untuk membongkar pola permainan defensif.
Contohnya taktik Masimilano Allegri yang membawa Juventus ke final dan semuanya berakhir kekalahan melawan tim dengan pola permainan aktif. lalu bagaimana dengan Inter Milan era Mourinho yang meraih Treble Winner? Mari kita bahas lagi, saat Mourinho menjuarai Piala Italia, Serie A dan Liga Champions, saat itu era di mana sepak bola Defensif masih sulit di bongkar, hal ini berbeda dengan era sekarang.
Tidak heran juga jika sepak bola Italia dulu sangat berprestasi. Buktinya sukses menjuarai Piala Dunia 2006 dan runner up di Piala Eropa 2012. Kemunduran sepak bola mereka mulai nampak saat final Piala Eropa 2012 dimana mereka dibantai 4-0 oleh taktik tiki-taka ala sepak bola Spanyol. Sejak saat itu sampai sekarang italia sering kalah bersaing di kejuaraan eropa maupun dunia.
Kita berharap saja semoga Juventus dan Tim Italia lainnya bisa mengulang kejayaan mereka seperti era 2000an. Agar persaingan sepak bola di tanah Eropa maupun Dunia kembali merata dan memanas.

Komentar
Posting Komentar
Mari berkomentar dengan bijak dengan komentar yang bisa anda tanggung jawabkan.